Senin, 29 Agustus 2011

Kesehatian dalam Pelayanan Ibadah

Tulisan ini disampaikan pada ceramah penatalayan tim ibadah Gereja Kristen Jembatan Lima  pos PI Cibinong, Cibinong . Isi makalah disarikan dari beberapa sumber dan sharing pengalaman pelayanan pribadi di beberapa gereja.
Kesehatian dalam Pelayanan Ibadah
oleh : Margaretha Pardede Santoso
1.      Liturgis dan singers memahami arti pelayanan & peranan mereka sesuai dengan Firman Tuhan dalam liturgi ibadah.
2.      Memahami makna sesungguhnya “Pujian dan Penyembahan”
3.      Liturgis dan singers mengetahui tehnik-tehnik dasar dalam memimpin jemaat bernyanyi untuk memuji Tuhan.
4.      peran pemusik

BAGIAN I
1.            Dasar Pengrtian Ibadah
·         Dalam PL
Suku Lewi dipilih sebagai tim ibadah dalam PL karena peristiwa di Kel 32 : 25-29. Mereka mengawal --> Tabut dan memihak pada Musa di dalam pertengkaran tentang lembu emas. Diduga karena kesetiaan bangsa Lewi inilah (Kel 32:25-29), kemudian mereka diberi tugas khusus
, yaitu semua tugas yang berkaitan dengan Kemah Suci dan semua perlengkapannya. Oleh karena itu, mereka memiliki hak dan kewajiban tertentu akan hal ini.
Orang-orang Lewi bertanggung jawab untuk menjaga kekudusan Kemah Suci. Tidak semua orang boleh menghampiri tempat kudus. Untuk menghindari murka Allah maka orang-orang Lewi bertanggung jawab untuk menjaga agar orang awam tidak mendekati tempat kudus. Sebagian orang Lewi bertugas untuk melayani Harun dan anak-anaknya ketika mereka melayani di tempat kudus. Sekalipun demikian, orang Lewi tidak boleh mendekati mezbah atau perkakas kudus, yang hanya boleh diurus oleh Harun dan anak-anaknya. Pelanggaran akan mengakibatkan kematian. Panggilan khusus tersebut memaksa orang Lewi untuk melakukan tugas secara sungguh-sungguh dan sepenuh waktu. Penghasilan orang Lewi disokong penuh oleh umat sebagai balas jasa atas pelayanan mereka di Kemah Pertemuan. Seperti halnya dengan para imam. Orang Lewi harus memusatkan perhatiannya pada pelayanan dan harus melepaskan diri dari fokus kepada obyek yang lain. Di zaman ini, Allah masih terus memanggil dan mengkhususkan hamba Tuhan penuh waktu untuk tugas khusus melayani umat Tuhan melalui gereja-Nya. [LM]
Yang Tuhan kehendaki terlebih dahulu adalah kesetiaan. Tuhan tidak meminta sesorang terampil atau syarat2 tertentu lainnya untuk melayani Dia. Ketrampilan memang diperlukan tetapi bukan yang utama. Contohnya : mamu pimpin pujian tapi tidak bisa mendengar nada, tentu butuh persiapan khusus untuk hal ini. Jikalau tidak bisa, maka kita perlu rendah hati untuk mencoba di bidang pelayanan lain.

·         Dalam PB
Bagian I
Sikap Tuhan Yesus terhadap ibadah :
1. Tuhan Yesus mendukung ibadah Israel
    Mengajar di bait Allah :Lukas 19: 47, Yoh 7:14
    Tuhan Yesus menyucikan bait Allah :Mat 21 : 12-13
    Pergi ke rumah ibadat pada hari sabat Lukas 4 : 16

2. Tuhan Yesus yakin bahwa Dia melebihi institusi ibadah dalam PL : Mat 12: 6, Yoh 2 : 19
3.  Yesus menganggap dirinya memiliki hak untuk mengartikan ulang kebiasaan ibadah orang Yahudi ( Mark 2 : 27-28)
Dari bagian ini kita dapat mempelajari bagaimana Tuhan Yesus  menjadi pelaku ibadah yang merupakan  teladan bagi ibadah kita dan Tuhan Yesus sendiri yang mengubahkan konsep dan kebiasaan ibadah orang Yahudi pada zaman itu. (khusus budaya israel, sumbernya adalah T sendiri, awalnya d G. Sinai yang kemudian dikembangkan oleh orang Farisi menjadi satu peraturan yang baku dan bahkan seringkali dianggap lebih benar dari apapun. Contoh :Hari sabat itu untuk Tuhan bukan untuk manusia. )

Bagian II
Momen-momen terpenting Kristus di dalam dunia
    
·         Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia untuk menyelamatkan manusia menjadi momen yang penting bagi orang percaya. Karena Dialah satu2nya Allah dan Manusia yang membawa manusia keluar dari ikatan dosa.
·         Kelahiran Kristus menjadi penting dalam skenario/ manuskrip ibadah yaitu : memuji Tuhan karena Dia yang menggenapi nubuatan nabi dalam PL. Nyanyian Maria “Magnificat” (Lukas 1 : 46-55) dikenal sebagai hymn/ nyanyian ibadah mula2 di gereja pada masa itu.
·         Kematian dan kebangkitan Kristus menjadi respon ibadah yang menekankan hancurnya kuasa dosa dan kematian yang kemudian tema ini menjadi fokus dalam baptisan, kotbah dan perjamuan Kudus. Ini yang menjadi inti FT bagi seluruh manusia

2.            Pentingnya Disiplin Rohani bagi para penatalayan
         A. Ibadah Pribadi
              Seorang pemimpin ibadah, singer, ataupun pemusik bahkan siapapun yang melayani dalam ibadah pribadi yang hidup. Satu-satunya cara adalah bagaimana menghabiskan waktu bersama dengan Tuhan secara pribadi. Di dalam ibadah pribadi, kita juga dapat merenungkan lagu2 yang kita nyanyikan/mainkan sehingga musik dann liriknya dapat menjadi fokus kita  di dalam Tuhan dalam kesatuan baik dalam keindahan, kebaikan, kebesaranNya.
·         Pengakuan dosa
      Sebagai penatalayan, sudah seharusnyalah kita mempunyai hidup yang terbuka di hadapan Tuhan. Kita manusia tidak luput dari keterbatasan dan kekurangan juga kecenderungan untuk merebut kemuliaan Tuhan menjadi kebanggaan kita. Waktu kita melayani Tuhan dalam ibadah, seringkali kita juga dapat mudah terjebak dalam satu kebanggaan diri karena kita yang membuat ibadah hari itu (mungkin) menjadi lebih baik. Pengakuan dosa membuat kita terus belajar memeriksa diri kita di hadapan Tuhan baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita hari lepas hari baik dalam kehidupan pelayanan, keluarga maupun kehidupan pribadi lepas pribadi. Waktu kita mengaku dan bertobat di hadapan Tuhan, merendahkan diri d hadapanNya kita menjalin kembali  hubungan yang lebih baik lagi dengan Tuhan

·         Doa
      Lukas 11 : 1
      Doa adalah percakapan kita dengan Tuhan. Doa merupakan proses pembelajaran yang bersifat terus menerus karena sebagai manusia kita mudah terombang ambing karena khawatir dan takut. Doa dengan satu penyerahan diri penuh, membuat kita berkomunikasi dan mendapatkan kekuatan dari T. Dalam doa kita juga membawa segenap jemaat yang kita layani, demikian juga rekan2 sepelayanan kita. Dengan demikian kita dapt menantikan dengan sabar melihat bagaimana Tuhan bekerja ketika kita membawa jemaat T memasuki hadirat Tuhan. Dengan doa kita juga memohon hikmat Tuhan untuk memahami apa yang jemaat Tuhan butuhkan dan apa yang mereka gumulkan. Di dalam hikmat Tuhan kita mendapatkan bimbingan bagaimana memperdulikan jemaat Tuhan melalui ibadahNya.
      
·         Tidak Mementingkan diri Sendiri
      SUBMISSION adalah bagian yang paling sulit dalam pelayanan.. Terus terang saya katakan, di gereja sering terjadi ketidakharmonisan di antara sesama penatalayan ataupun Hamba Tuhan karena bersikeras memaksakan apa yang diinginkan kepada orang lain. Di satu gereja yang saya layani di Jakarta, saya sulit sekali menerima kebiasaan ibadah mereka karena ada beberapa hal yang dipaksakan secara pribadi, misalnya: ada seorang liturgis bersikeras mengubah2 nada dasar sesuai suaranya sehingga pada saat jemaat bernyanyi mereka kesulitan karena lagu2 yang dimainkan menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah nada2 nya. Pernah juga saya temukan lagu “The Prayer” dijadikan salah satu lagu dalam ibadah. Hal ini jelas tidak benar. Karena lagu The Prayer tidak dikomposisi untuk jemaat melainkan untuk nyanyian solo yang kondisinya sangat berbeda dengan jemaat. Lagu ini dibuat untuk penyanyi Charlotte Church dalam duetnya dengan Josh Groban. Dari segi materi suara keduanya mempunyai wilayah suara yang sangat luas sehingga banyak nada2 yang rendah dikombinasikan dengan nada2 yang sangat tinggi (diluar jangkauan suara jemaat) secara ekstrim. Bisa Bapak/ ibu bayangkan bagaimana jadinya ibadah kita jika demikian? Di satu gereja yang lain yang saya layani, ada seorang anak Hamba Tuhan yang saya ajar di sekolah. Saya mencoba memperkenalkan musik2 yang baik dari komposer2 besar dalam sejarah bagi anaknya dan juga siswa lain, tapi kemudian di mimbar disinggung bahwa komposer ini juga baik tapi lagu2 dari pembuat lagu rohani kontemporer juga baik. Bapak tersebut tidak setuju dengan saya lalu menegur secara tidak langsung di mimbar. Padahal saya tekankan (yang saya yakin dia tidak tahu), bahwa konsep2 besar musik yang baik yang pernah hadir dalam sejarah musik di dunia dilandasii oleh konsep pemikiran integritas  Kristen dibelakangnya. Di dalam pelayanan kita harus banyak pertimbangan dan saling menghormati antara sesama pelayan ataupun pelayanan itu sendiri.  Submission adalah satu disiplin rohani yang membuat kita belajar menyerahkan hak pribadi kita untuk kebaikan orang lain juga pelayanan itu sendiri. Submission adalah upaya untuk melihat sesuatu dari berbagai2 perspektif dan belajar untuk menelusuri pendapat orang lain. Tidak mementingkan diri melatih kita untuk hidup dalam transparansi (tidak ada hal yang ditutup2i dan keterbukaan untuk  kedisiplinan yang harus kita kerjakan). Ketika kita tidak mementingkan diri sendiri, kita tidak berpikir tentang diri sendiri sebagai otoritas tertinggi. Kita belajar saling merendahkan hati untuk menerima pendapat, kritikan dan saling bertanggung jawab. Dalam pelayanan ibadah kita bekerjasama dengan HT dan tim ibadah yang terlibat, jika kita bisa mempunyai sikap seperti ini pasti kita dapat bekerja dalam satu lingkingan pelayanan yang harmonis dengan satu pemahaman bahwa kita semua ada di bawah otoritas Tuhan

·         Berdiam diri
      Mazmur 46 : 10.
      Dunia kita adalah dunia yang hiruk pikuk, hingar bingar. Dalam masa2 sekarang ini satu buku mengatakan “solitude” adalah seni yang hilang. Solitude/ berdiam diri adalah keluar (sesaat) dari kehidupan komunitas sekitar dan menikmati hadirat Tuhan dalam kesunyian. Berdiam diri menolong kita untuk belajar bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh pendapat orang tetapi  bagaimana kita hidup di hadapan Dia dan Tyuhan melihat hidup kita. Dalam diam kita belajar menilik hati kita, mengalami hadiratNya dan dengan satu keyakinan bahwa kita adalah domba gembalaanNya dan Dia akan selalu beserta dengan kita. dengan demikian kita tidak takut kesepian atau bahkan mengharap perhatian orang sehingga kita tidak jatuh dalam kemuliaan diri, mengharapkan pujian orang  tetapi hanya untuk menyenangkan Tuhan
·         Puasa
      Berpuasa dalam kehidupan pelayanan kita menolong kita untuk menyerahkan  setiap hal dalam pelayanan (mungkin juga pribadi) kepada Tuhan dan membiarkan Dia yang mengendalikan hidup kita. Kita juga belajar taat kepada Tuhan dan fokus kepada Dia. Dengan berpuasa kita sejenak berhenti dari hal2 yang biasa kita lakukan dan kita menjadi lebih peka akan apa yang Tuhan inginkan dalam pelayanan kita. Kepekaan ini menolong kita untuk lebih mengerti keberadaan diri kita dan memfokuskan  hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan.  Jika kita berfokus pada Tuhan, kita akan mempunyai kesadaran kerohanian yang diperbaharui yang menolong kita keluar dari permasalahan yang membelenggu kita.


3.            mengenai istilah pujian dan penyembahan
        
         Yang saya amati dalam praktek ibadah, istilah ini menjadi bergeser saat kita membedakan lagu2 untuk pujian dan lagu2 untuk penyembahan. Lagu untuk pujian biasanya dipilih yang bermelodi riang dan penyembahan yang bermelodi khusyuk atau lembut. Pertanyaannya: pada saat praise, menyanyi seperti apa? Apa yang kita rasakan? Menyanyi sebebas apa? Dari apa yang di alami, kemudian timbul pengertian bahwa ibadah ya yang seperti ini atau yang seperti itu. Dalam bahasa Inggris, dua istilah ini disebut praise and worship yang menjadi populer sejak adanya ibadah kontemporer dalam gerakan Kharismatik. Saya mengajak kita melihat istilahnya satu per satu :
Worship
Secara literal Dalam bahasa Inggris mempunyai makna memberikan penghormatan kepada Tuhan dengan tindakan dan tutur kata kita. Dalam PL
. Lalu apa itu worship ? d dalam PL kata worship dterjemahkan shachah yang berarti tersungkur, jatuh rata dengan tanah, memohon dengan kerendahan hati. Sedangkan dalam PB sering memakai kata proskuneo yang berarti “mencium seperti anjing menjilat tangan tuannya”. D Persia, ada satu budaya yg bisa memperjelas makna proskuneo, orang yang sederajat menyapa dengan saling mencium bibir, orang yang derajatnya sedikit lebih rendah boleh mencium pipi. Sedangkan orang yang derajatnya paling rendah dia harus berlutut dan kepalanya menyentuh tanah. Proskuneo. Ibadah yang sesungguhnya itu harus Yoh 4 : 24. dikutip dr commentary adam clarke “A man worship God in spirit, when under the influence of the Holy Ghost, he brings  all his affections, appetites, and desires to the throne of God; and he worship Him in truth when every purpose and passion of His heart, and when every act of His religious worship, is guided and regulated by the Word of God”. MANUSIA MENYEMBAH TUHAN DALAM ROH, DIBAWAH PIMPINAN ROH KUDUS, IA MEMBAWA SEGENAP KESUNGGUHAN, SELERA DAN KEINGINAN KEPADA TUHAN; DAN IA MENYEMBAH TUHAN DALAM KEBENARAN KETIKA SETIAP TUJUAN DAN keinginan hati yang terdalam, TINDAKAN IBADAH YANG RELIOGIUS DIBIMBING DAN DIKENDALIKAN OLEH FIRMAN TUHAN. Bukan lewat pengalaman, perasaan, keinginan kita atau kesenangan atau kemampuan  kita yang kita anggap sebagai kebenaran. Waktu kita mendekat kepada Tuhan, hati kita mempunyai satu penyerahan yang mutlak. Tidak ada satupun  yang kita dapat berikan kepada Tuhan selain kesungguhan hati dan ketaatan. Kita sendiri harus menilik pelayanan ibadah pribadi kita dalam pengertian yang sesungguhnya mengenai ibadah.
Roma 12 : 1
Praise/ pujian
Mengenai lagu kontemporerd “bawah kepak sayapmu” (maaf saya lupa judul persisnya)-> terdapat frase :”dibawah kepak sayapmu”. Apa mungkin d bawa terbang di bawah kepak sayap? Rajawali itu melemparkan anaknya di titik terendah baru diselamatkan lagi supaya belajar terbang. Secara alkitabiah, tidak dikatakan di bawah kepak sayap rajawali. Yg ada d bawah sayap malaikat, sayap ayam tidak dikatakan spesifik rajawali dan tdk dkatakan di bawah kepak sayap. Yg dilindungi d bawah kepak sayap tetapi bukan rajawali.
Dalam beberapa pengertian seringkali istilah  jatuh kepada gaya musik atau lagu yang dimainkan dan menggunakan gaya2 musik yang banyak mempergunakan sinkopasi atau upbeat dalam memainkannya. Upbeat sebenarnya bukan masalah, karena ada beberapa pujian dari budaya tertentu memang erat upbeat atau sinkopasi mis: orang Afrika. Yang menjadi masaah adalah kecenderungan memilih atas apa yang kita suka dan ada sedikit kebebasan (kurang mau diatur karena ini praise maka yang dipilih adalah yang seperti demikian). dengan Ayat yang diambil sebagai pembenaran atas istilah ini adalah
Mazmur 150: ayat 4 dan 5 menjadi satu pembenaran untuk menggunakan alat musik tertentu atau lagu dengan gaya tertentu yang digunakan satu ibadah. Saya tidak menyalahkan alat musik yang dipakai, tidak  pro instrumen ini dan kontra instrrumen itu. Beat sebenarnya tidak menjadi masalah, tapi permisi tanya apakah pemikiran kita waktu kita memikirkan pujian ini? Istilah pujian sekarang ini jadi bergeser. Sebenarnya pujian adalah  pernyataan positif terhadap seseorang atau terhadap sesuatu. Kita memuji karena seseorang atau sesuatu itu layak dipuji. Pujian disini dalam arti puji2an Kristen. Pujian lebih bersifat ekspresif, ungkapan (biasanya dengan nyanyian) sedangkan penyembahan adalah satu sikap doa dan introspeksi diri di hadapan Tuhan.
Sehingga, jika orang memuji belum tentu dia melakukan penyembahan, Penyembahan dalam cakupan yang lebih luas adalah  bagaimana seluruh hidup kita menjadi persembahan yang hidup di hadapan Allah seperti yang dikatakan dalam Roma 12 : 1  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar